
الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى طَرِيقِهِ الْمُسْتَقِيمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Segenap puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesehatan kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Mewajibkan diri dan jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah SWT,
Baru saja kemarin, pada tanggal 22 Oktober 2026, bangsa kita kembali memperingati Hari Santri Nasional. Peringatan ini lahir dari momentum bersejarah, yaitu maklumat Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Pada masa itu, para ulama dan santri berdiri di garis depan demi mempertahankan kemerdekaan tanah air.
Semangat Hari Santri bukan sekadar mengenang pakaian sarung atau suasana pesantren, melainkan mengenang spirit perjuangan, kemandirian, kecintaan terhadap tanah air (hubbul wathan minal iman), serta komitmen untuk senantiasa menjadi solusi bagi bangsa. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 122:
وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)
Melalui ayat ini, Allah mengajarkan pentingnya peran tafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama) yang dipadukan dengan tanggung jawab sosial memelihara kedamaian dan kesejahteraan masyarakat.
Jamaah yang Dimuliakan Allah SWT,
Hari ini, di bumi Musi Banyuasin yang kita cintai, perjuangan dan kepedulian itu diuji dalam bentuk yang berbeda. Wilayah kita masih dilanda oleh musim kemarau dan musibah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Udara yang kita hirup terasa berat, jarak pandang terbatas, dan kesehatan anak-anak kita serta keluarga terancam.
Bagaimana sikap seorang yang memiliki jiwa “santri” seorang muslim yang Tangguh dalam menghadapi situasi kemarau dan kabut asap ini?
Al-Qur’an mengingatkan bahwa berbagai kerusakan di bumi kerap terjadi akibat perbuatan tangan manusia itu sendiri. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِي عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (dibatalkan akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Melalui musibah asap ini, mari kita perbanyak istighfar. Hentikan tindakan-tindakan membakar lahan secara sembarangan yang membahayakan hajat hidup orang banyak.
2. Meneladani Kisah Kepemimpinan Umar bin Khattab RA
Suatu ketika pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA, terjadi musim kemarau panjang yang sangat dahsyat yang dikenal dengan sebutan Aam Ar-Ramadah (Tahun Abu). Tanah menjadi kering kerontang dan debu/asap bertiup bagai abu.
Apakah Umar tinggal diam? Tidak. Umar bin Khattab RA tidak hanya mengurung diri berdoa, tetapi beliau:
Umar mengajarkan bahwa dalam situasi bencana iklim dan cuaca buruk, kepedulian sosial dan kepemimpinan yang bijak adalah kunci utama.
3. Saling Menjaga dan Mengasihi Sesama
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.” (HR. Muslim)
Menjaga sesama di Musi Banyuasin saat ini bisa diwujudkan dengan:
Jamaah yang Dirahmati Allah,
Menjadi “santri” di masa kini berarti menjadi pribadi yang siap menjaga agama sekaligus merawat alam sekitar. Mari kita doakan agar wilayah Musi Banyuasin dan sekitarnya segera diguyur hujan rahmat oleh Allah SWT, diangkat musibah kabut asap ini, serta dijauhkan dari segala penyakit dan marabahaya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Penulis: Imam Irfa’i
(Sekretaris Daerah IPARI Musi Banyuasin, Wakil Sekretaris PCNU Musi Banyuasin dan Pendidik di PP Sirojul Ulum Babat Toman Musi Banyuasin)