SEKILAS INFO
  • 4 bulan yang lalu / DIRGAHAYU HARI ULANG TAHUN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA KE-77 TAHUN 2022, PULIH LEBIH CEPAT BANGKIT LEBIH KUAT
  • 1 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi PCNU MUSI BANYUASIN ; pcnumuba.or.id
WAKTU :

Konsistensi NU dalam Menyebarkan Aswaja dan Menjaga Komitmen Kebangsaan

Terbit 18 Januari 2021 | Oleh : Ahid Jamaludin | 883 Views | Kategori :
Konsistensi NU dalam Menyebarkan Aswaja dan Menjaga Komitmen Kebangsaan

Usia NU hampir satu abad. Liku-liku perjalanan NU sejak lahir (1926) hingga kini penuh dengan aral nan terjal. Melintasi orde silih berganti. NU kian tumbuh dan tumbuh dewasa sesuai tantangan zamannya. NU kini bukan hanya rahmat bagi Indonesia semata tapi juga rahmat untuk masyarakat dunia. Meneruskan perjuangan kanjeng nabi Muhammad saw. Menebar Islam sebagai rahmat untuk sekalian alam.

Kekuatan NU hingga hari ini sebagai organisasi Islam terbesar didunia tentunya bukan sekedar kebanggaan bagi kaum nahdliyin, tapi karena konsistensi NU dalam mengemban khidmahnya yakni sebagai benteng akidah Aswaja (Sunni) dan Benteng NKRI. Tanpa konsistensi menjaga khidmah NU ini, bisa saja NU sudah tamat sejak dulu. Lumat dilindas zaman.

NU Benteng Aswaja

NU bukan hanya membentengi akidah Aswaja di Nusantara namun juga diseluruh dunia. Dari berbagai sekte Islam seperti Wahabiyah, Qadariyah, Jabariyah, Jahmiyah, Murji’ah, Muktazilah, Syi’ah hingga Ahmadiyah, Aswaja tetap menjadi mayoritas. Mayoritasnya Aswaja-Sunni tak terlepas dari peran NU dikancah dunia. NU sebagai kunci dan posisi tawar.

Jika Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari membentuk NU untuk melindungi paham Aswaja di Nusantara dari gempuran Wahabi dan Rafidhah, maka santri Hadratussyaikh yakni kaum Nahdliyin punya amanah besar membawa NU keseluruh penjuru dunia. Alhamdulillah. Kini NU ada dimana-mana. Di Asia, Australia, Timur Tengah, Afrika hingga Eropa.

Bukti bahwa NU sebagai kunci dan punya posisi tawar, lihat saja tokoh-tokoh Sunni diberbagai negara kerap datang ke PBNU meminta nasehat dan uluran tangan dari NU untuk turut dalam menyebarkan paham Aswaja dinegaranya bahkan NU kerap diminta untuk menyelesaikan masalah diberbagai negara konflik. NU solusi bagi dunia. NU rujukan dunia dalam menyebarkan paham Aswaja. Gampangnya, jika ingin kenal dan paham apa itu Aswaja, datanglah ke PBNU. Datanglah pada ulama NU.

Prinsip Aswaja yang saat ini gencar diekspor NU keseluruh dunia adalah prinsip Wasathiyah (moderatisme). Dengan prinsip ini, NU eksis menyebarkan vaksin perdamaian untuk memberantas virus terorisme dan radikalisme. Serum anti virus terorisme ini terbukti ampuh hingga kini menjaga NKRI dari kehancuran, berbeda nasibnya dengan negara-negara Timur Tengah sudah babak belur.

Paham Aswaja yang dimaksud NU adalah sebagaimana bunyi hadits:

ان الله لا يجمع أمتي على ضلالة , و يد الله على الجماعة , من شد شد الى النار , رواه الترمذي , زاد ابن ماجه : فاذا وقع الاختلاف , فعليك بالسواد الأعظم , مع الحق و أهله , و فى الجامع الصغير , ان الله قد أحار أمتي أن تجتمع على ضلالة

Sesungguhnya Allah tidak akan menyesatkan umatku secara keseluruhan. Kekuasaan Allah berada pada Jama’ah (kelompok). Barangsiapa yang keluar (berpisah dari jama’ah), maka ia akan terjerumus ke dalam api neraka. (HR. Tirmidzi). Imam Ibnu Majah menambahkan: “Jika terjadi perbedaan (di antara kalian), maka hendaklah kalian berpegang tegung pada “As-Sawad Al-A’dzham” (ulama yang agung), beserta yang benar (haq) dan yang ahlinya. Dan dalam kitab “Al-Jami’us Shagir” diterangkan bahwa Allah telah menyelamatkan umatku dari kesesatan yang dilakukan secara sepakat oleh jama’ah.

Menurut Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Ziyadah at-Ta’liqat, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah :

أما أهل السنة فهم أهل التفسير و الحديث و الفقه فإنهم المهتدون المتمسكون بسنة النبي صلى الله عليه وسلم والخلفاء بعده الراشدين وهم الطاءفة الناجية قالوا وقد اجتمعت اليوم في مذاهب أربعة الحنفيون والشافعيون و المالكيون والحنبليون

“Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadis, dan ahli fikih. Merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi dan sunnah khulafaurrasyidin setelahnya. Mereka adalah kelompok yang selamat. Ulama mengatakan : Sungguh kelompok tersebut sekarang ini terhimpun dalam madzhab yang empat yaitu madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali.”

NU Benteng NKRI

NU sangat komit dengan ideologi kebangsaan yakni Pancasila. Pancasila sudah final, tidak bisa lagi diutak-atik atau diganti dengan ideologi lain. Siapa yang berupaya mengganggu Pancasila, maka akan langsung berhadapan dengan NU. Terbukti siapapun, ormas apapun yang anti NKRI pasti tumbang. Pancasila itu sudah syar’i. Pancasila adalah nilai-nilai Islam yang membumi. Islam yang diterjemahkan dan dipahami oleh umat Islam Nusantara yang kaya dengan keberagaman. Yang mengusik Pancasila pertanda tidak memahami ajaran Islam yang sebenarnya.

NKRI adalah Mu’ahadah Wathaniyah (negara kesepakatan). Para pendiri bangsa kita bersepakat untuk membuat sebuah negara yang didalamnya menghimpun berbagai suku dan agama dengan simbol Pancasila yang dilandasi dengan semangat toleransi. Praktik keagamaan umat Islam di Nusantara ini sudah sangat sesuai dengan apa yang dipraktikkan oleh Rasulullah di Madinah. Kalau Rasulullah mencetuskan Piagam Madinah, maka pendiri bangsa kita mencetuskan Pancasila. Jadi NKRI bukanlah negara kafir.

Tepatlah apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam membendung kelompok-kelompok anti Pancasila. NU sangat mengapresiasi walau pemerintah masih terkesan lamban. Jika kelompok atau gerakan anti Pancasila didiamkan maka cepat atau lambat akan merusak Pancasila. NKRI bisa bubar. Sebelum itu terjadi, gerakan atau ormas anti Pancasila memang harus segera dibubarkan.

Walau begitu, pemerintah tidak boleh lengah. Meskipun sudah bubar organisasinya, gerakan-gerakan radikal akan terus ada dan terus mengintai NKRI sepanjang masa. Kelompok anti NKRI akan membuat gerakan-gerakan baru dengan misi yang sama untuk melumpuhkan Pancasila. NU harus waspada dalam hal ini. NU tak boleh lelah sedikitpun. Jika bukan NU, siapa lagi yang akan menjaga NKRI? Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis : Ust. Suryono Zakka, S.Th.I.

SebelumnyaMakna Tahun Baru 2021 di masa Pandemi SesudahnyaKetika Orang Saleh dan Ulama Pergi Satu per Satu

Tausiyah Lainnya